Home

Ngaji Kitab Kifayatul Atqiya’

Salah satu dari sembilan nasihat yang terdapat dalam kitab Kifayatul Atqiya’ karangan Syekh Muhammad Syatho’ Ad Dimyati, yaitu tentang taubat. Taubat menjadi landasan agama seorang mukmin dalam beragama, dan menjadi awal dakian menuju keharibaan Allah Swt. Ulama mendefinisikan taubat adalah kembalinya seseorang dari melakukan perbuatan tercela menuju perbuatan yang terpuji secara syariat. Maka dari definisi itulah bisa ditangkap kesimpulan bahwa taubat seorang individu pasti berbeda-beda tergantung kualitas imannya.

Beliau menjelaskan jika seseorang taubat nadhim, pasti memiliki ciri-ciri suka menangis ketika melakukan suatu maksiat, dan taubat kadzib adalah taubat yang hanya dalam sebatas lisan mengucap kalimat istighfar tanpa ada perbuatan nyata untuk meninggalkan maksiat tersebut. Jika kita pernah melakukan kedholiman kepada suatu mahkluk maka kita harus berusaha sekuat tenaga dan upaya agar mereka yang kita dholimi itu menghalalkan perbuatan yang telah kita lakukan kepada mereka.

Kemudian kunci agar suatu taubat memiliki sifat langgeng itu adalah selalu muhassabah bi nafsi dalam setiap tarik ulurnya nafas kehidupan. Hindarilah maksiat lisan sekuat tenaga, baik dari ucapan kotor, bohong, ghibah, memfitnah sesama, dan lain sebagainya. Jika seandainya kita dicoba oleh Allah Swt dengan adanya bentuk lupa atau berupa teman yang mana hal itu malah menjerumuskan kita kemaksiat, maka segeralah mengganti maksiat itu dengan perbuatan yang baik.

Diringkas oleh : Oktavian Dwi Elanza

Santri Ma`had Aly Al Fithrah 

Ngaji Kitab Nashoihul Ibad

Beliau mengawali kajian hari ini dengan membacakan maqolah dari Imam Sufyan Ats Tsauri, beliau berkata” Kita menghadao Allah Swt dengan membawa 70 dosa yang berhubungan dengan Allah Swt itu lebih ringan daripada menghadap Allah Swt dengan membawa 1 dosa kita kepada mahkluk”, maksudnya itu adalah bahwa dosa dholim kepada seorang muslim itu lebih bahaya daripada beberapa dosa yang kita lajukan kepada Allah Swt, karena Allah memiliki sifat Maha Pemurah dan Pengampun, yang mana berbeda dari mahkluk, memiliki sifat egois dan rasa marah.

Maka dari itu jika kita tak bisa menemui mereka yang kita dholimi, beliau berpesan kepada kita agar membaca surat Al Ikhlas 3 kali kepada mereka yang kita dholimi, insya allah mereka akan menghalalkan, beliau mengutip hal itu dari perkataan Syekh Ahmad Asrori Al Ishaqy.

Kemudian beliau menjelaskan panjang lebar yang mana berorientasi pada satu hal yaitu, hidayah merupakan hak mutlaq milik Allah Swt, tidak bisa di interversi oleh manusia bahkan sekelas Rasullullah Saw pun tidak bisa memberi hidayah, dan kemudian beliau menjelaskan bahwa eksistensi wali Allah itu pasti ada dalam setiap zaman, dan kita harus mempercayainya.

Diringkas oleh : Oktavian Dwi Elanza

Santri Ma`had Aly Al Fithrah

Ngaji Minhus Saniyyah

Dalam hal ini beliau Ust. Wahdi menjelaskan kepada kita tentang tandanya orang itu malu kepada Allah Swt, jika orang itu malu kepada Allah Swt, maka ia akan senantiasa menjauhi segala larangannya dan perkara-perkara yang diharamkannya. Kemudian beliau menjelaskan perbedaan antara wali dan orang awam ketika menjalankan maksiat, ketika seseorang tersebut wali maka ketika ia berbuat maksiat langsung spontan ia meminta ampun kepada Allah Swt dan segera menggantinya dengan perbuatan baik, kalau orang awam malah bertolak belakang, justru mereka membangga-banggakan perbuatan maksiatnya.
Maka dari itu penting bagi orang awam agar selalu muhassabah nafsi supaya diberikan kesempurnaan bertaubat oleh Allah Swt, keterangan lebih lanjut beliau menjelaskan tentang adab, adab atau betata krama itu ada 3 tingkatan, yang pertama adab ahlu dunya, yang kedua adab ahlu diin, yang ketiga adab ahlu khususiyah.
Setiap tingkatan tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut, adab ahlu dunya kebanyakan seputar menjaga lisan dan ilmu, kemudian adab ahlu diin yaitu berurusan dengan riyadhotun nafsi, mengajari anggota-anggota dhohir, menjaga hati serta peraturan syariat, dan menjauhi syahwat dan syubhat, kalau adab ahlu khususiyah kebanyakan berhubungan dengan ranah thoriqoh, serta menjaga hati dan waktu.
Penting sekali bagi manusia itu memiliki adab, entah itu kepada mahkluk Allah atau dengan Allah itu sendiri, karena hanya dengan adab lah kita dipermudah memperoleh sesuatu, serta membuat kita menjadi orang yang berhasil.

Diringkas oleh : Oktavian Dwi Elanza

Santri Ma`had Aly Al Fithrah

Selamat Datang Di Website Ponpes Assalafi Al Fithrah Surabaya

Dengan mengharap taufiq, hidayah dan ridho Allah SWT., semoga Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dimanapun berada berjalan dengan lancar dan baik serta melahirkan generasi-generasi yang ahli di bidang agama dan mumpuni di bidang dasar-dasar sains dan teknologi dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran salafush sholih, Amin Ya Rabbal ‘Aalamiin

” Cita-cita para santri Al Fithrah Surabaya : ‘Menjadi hamba Allah yang sholih dan sholihah, pandai bersyukur, ta’at kepada Allah SWT, ta’at kepada Rasulullah SAW, berbakti kepada kedua orang tua, Agama, Nusa dan Bangsa.’ “

" Dalam setiap amal ibadah apapun yang kita lakukan,
marilah didasari dengan selalu MERASA HINA (“APES”) di Hadapan Allah SWT. "

" Dalam pergaulan dengan sesama,
marilah kita gunakan “Akhlaqul-Karimah”
yang didasari dengan selalu merasa :
“ORANG LAIN LEBIH MULIA KETIMBANG DIRI KITA, DAN DIRI KITA LEBIH HINA KETIMBANG ORANG LAIN”. "

" Jadikanlah diri kita sebagai orang yang pandai BERSYUKUR "

" Jadikanlah diri kita sebagai orang yang memiliki sifat WELAS ASIH. "

" Jadikanlah diri kita sebagai orang yang MUDAH MENGALAH "

" Jadikanlah umur kita ini SELALU BERISI HAL-HAL YANG BERMANFAAT "

" JANGAN PERNAH BERBUAT DHOLIM terhadap sesama. "