Haul Sayyidatinaa Khadijah ra

Al Fithrah, Minggu 14 Agustus 2016 untuk kesekian kalinya dilaksanakan Majlis Halal bi Halal dan Majlis Dzikir wa Maulidurrasul SAW, dan Haul Sayyidatinaa Khadijah ra (Istri Nabi Muhammad SAW secara istiqomah di ahad ke dua bulan Dzulqa’dah. Tepat pukul 07.00 WIB – dimana Hadrotusy Syaikh ra., semasa masih sugeng akan mengawali pengajian Beliau ra. – acara dimulai dengan Tawasul oleh KH. Luthfi, dilanjutkan Istighotsah oleh KH. M. Nawawi. Tawasul Manaqib oleh KH. Abdullah. Pembacaan manaqib Nyai Siti Khadijah ra. oleh santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Do’a manaqib oleh KH. Najib Zamzami.

Sementara do’a manaqib dibaca, masih ada jama’ah yang baru memasuki gerbang Al Fithrah. Qasidah Ibadallah dan Ya Arhamar Rahimin, menemani langkah mereka mencari tempat kosong untuk duduk. Area masjid yang lebih sering kosong di acara serupa, pagi itu cukup – pantas untuk dikatakan – penuh.

Selanjutnya Qasidah Laailaahailaallah, menjadi backsound terlarutnya para jama’ah berdzikir. Pembacaan talqin tahlil dipandu KH. Munir Abdullah, ditutup Do’a tahlil oleh Habib Musthofa al Jufri.

Acara disambung dengan pembacaan Qasidah Maulid Dhiya’ul Lami’ oleh Habib Umar bin Abdullah as Segaf dan santri Al Fithrah. Do’a Maulid dibaca Habib Salim Baharun. Didaulat untuk memberi Mauidhoh Hasanah yang Habib Muhammad Haidar bin Muhammad Diya’ al ‘Aidrus.

Dalam mauidhohnya beliau menyampaikan, sudah selayaknya kita berucap terimakasih pada Hadrotusy Syaikh ra, yang telah menyambungkan kita dengan biografi istri pertama Nabi Muhammad SAW. Istri yang penuh keistimewaan, totalitasnya dalam berkhidmah pada Nabi SAW dan Islam, hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Dan melalui rahim beliaulah, garis keturunan Rasulullah SAW berlanjut sampai sekarang. Beliau (Habib Haidar) juga berpesan agar kita – para santri, murid dan jama’ah beliau – terus menjaga keberlangsungan acara seperti ini hingga hari qiyamat, karena hanya dengan seperti inilah anak cucu kita akan sejarah keagungan orang-orang sholih yang dicintai oleh Allah SWT.

Majlis yang mulia di pagi itu ditutup dengan do’a fatihah oleh Habib Umar Assegaf, dilanjutkan dengan makan talaman. Semoga kita semua dipertemukan di acara serupa di tahun-tahun mendatang. Amin.

Haflah Wisuda Tahun Ajaran 2015-2017

Senin, 18 Juli 2016, Pondok Pesantren Al Fithrah kembali mengadakan Wisuda untuk tahun ajaran 2015-2016. Acara yang dua tahun ini di gelar di awal tahun, sebagai bentuk penghargaan bagi para santri tingkat terakhir dan lulus ditahun ajaran 2015-2016 di jenjang Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Ma’had Aly. Total santri yang diwisuda sebanyak 545, terdiri dari 369 santri MTs, 145 santri MA dan 31 santri Ma’had Aly.

Acara dimulai pukul 07.00 WIB, dimulai dengan undangan para MC – yang terdiri dari 3 bahasa (Arab, Inggris dan Indonesia) – pada para tetamu, baik wali santri maupun segenap asatidz dan juga undangan khusus yang masih berada di luar untuk menempati tempat yang telah disediakan panitia. Selanjutnya iringan wisudawan dan wisudawati yang dipandu oleh pembawa bendera masuk dengan perasaan yang sangat bahagia ke dalam ruang wisuda.

Habib Abdullah bin Umar al Hadar, yang hadir sejak jam 06:45 WIB di lokasi, diaturi untuk membacakan tawasul sebagai tanda rangkaian acara wisuda dimulai. Dilanjutkan Ust. Hadhori membacakan Istighotsah. Hadir pula di lokasi, Habib Ahmad bin Zain al Kaff, Habib Musthofa al Jufri, Habib Abdurrahman bin Aqil, H. Ridloun Natsir, dan juga salah satu Putri Hadrotusy Syaikh – Nyai Hj. Saviera es Salafiyah al Ishaqy – yang berkenan mengikuti prosesi wisuda hingga rampung.

Drs. Shofwan Hasan, M.Ag, mewakili kepala pondok pesantren Assalafi Al Fithrah menyampaikan beberapa informasi terkait kepondokan, dan juga beliau memberikan pesan kepeda segenap wisudawan-wisudawati agar tetap menjaga nama baik almamater, dan menjalankan wadhifah jika nanti mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan di luar Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.

Acara inti, prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat, dimulai dari MTs, pemindahan tali toga oleh Ust. Agus Saputra S.Ud, M.Pd.I, dan penyerahan ijazah oleh Ust. Nashiruddin S.Ud. Dilanjutkan dari MA, pemindahan tali toga oleh Ust. Ahmad Jami’an S.Ud, dan penyerahan ijazah oleh Ust. Muhammah Yasin, S.Pd. Ditutup dari Ma’had ‘Aly, pemindahan tali toga oleh Ust. Ahmad Syathori, M.Fil.I, dan penyerahan ijazah oleh Ust. Fathur Rozi, M.H.I.

Pada kesempatan ini diumumkan pula lulusan terbaik tiap jenjang. Khusus untuk MTs ada dua lulusan terbaik, putra Lukman Hakim asal Sumenep, dan putri Nurul Hidayati asal Surabaya. Lulusan terbaik MA, diraih oleh Kholishotul Fithriyah asal Pekalongan. Lulusan terbaik Ma’had ‘Aly diraih oleh Akrom Sa’id asal Pemalang. Kepada semua lulusan terbaik itu panitia menganugrahi trophy yang diserahkan langsung oleh Habib Musthofa al Jufri.

Penutup do’a disampaikan oleh Habib Abdurrahman bin Aqil, menandai acara wisuda ini rampung.

Selamat dan sukses atas diwisudanya santri MTs, MA dan Ma’had ‘Aly, semoga ilmu yang didapat bermanfa’at, menjadi generasi sholih dan sholihah, dan melanjutkan syi’ar Hadrotusy Syaikh di manapun berada. Amin.

Majlis Pitulikuran

Al Fithrah, malam 27 Ramadhan 1437 H., majlis yang sama yang istiqomah dilaksanakan sejak beliau – Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy ra. –  masih sugeng kembali diselenggarakan. Sejak kapundutnya beliau di tahun 2009 hingga sekarang, volume kedatangan jama’ah di majlis penyambutan ‘lailatul qodar’ ini terus meningkat. Jama’ah memang didominasi datang dari daratan Jawa dan Madura, namun ada beberapa rombongan dari luar pulau yang mengkonfirmasi kedatangan dalam majlis pelepasan bulan Ramadhan ini.

Ba’da jum’atan para jama’ah sudah mulai berdatangan, puncak arus kedatangan para jama’ah ba’da sholat ashar. Agar tidak terjadi percampuran antara lokasi antara jama’ah laki-laki dan perempuan, untuk meminimalisir ‘batal wudhu’’ karena sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan, pengurus pondok dibantu teman-teman ukhsafi dan coopler community serta jama’ah Al Khidmah Surabaya, memandu para jama’ah ke tempat yang sudah di sediakan yang sudah dipisah dengan satir.

Mengingat keterbatasan persiapan tim pengairan, tindakan ini dianggap perlu untuk menghemat kuoata air yang selalu berbanding terbalik dengan jumlah jama’ah yang sebanyak itu. Sejak tanggal 25 Ramadhan, tim pengairan sudah menyiapkan beberapa toilet dan tempat wudhu darurat serta membersihkan kamar mandi pondok, agar jama’ah nyaman dalam berthaharah, dan mengikuti rangkaian acara pitulikuran dengan kondisi suci.

Sebagaimana list yang dirilis oleh pengurus pusat Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah,  acara ‘majlis pitulikuran’ ini tersusun dari istigotsah oleh habib Abdullah bin Umar al Haddar, Isthotsah oleh KH. Abdul Kholiq (Kudus), khotmil qur’an oleh santri Al Fithrah, pembacaan surat al Ikhlas oleh KH. Abdullah Said (Malang), do’a khotmil Qur’an oleh KH. Nur Slamet (Jombang), dzikir fida’ oleh KH. Munir Abdullah (Ngroto), do’a tahlil oleh KH. Najib Zamzami, qashidah Ramadhan oleh Habib Umar Assegaf, sholat tasbib oleh KH. Zainul Arif, dan do’a oleh KH. Wahdi Alawy (Al Fithrah).

Acara secara resmi baru dimulai pukul 10.00 WIS (09.30 WIB), namun kepadatan jama’ah sudah mencapai titik maksimal di halaman masjid Al Fithrah jelang maghrib. Pengurus pondok dan jama’ah al khidmah juga menyediakan buka yang disajikan dalam bentuk nasi bungkus dan talam. Untuk minum teman-teman santri juga menyiapkan beberapa titik air dingin dalam tong, terlihat juga beberapa jama’ah yang menuangkan sirup yang berapa bawa dari rumah ke dalam tong tersebut. Selanjutnya para jama’ah menunaikan shalat maghrib yang diimami oleh KH. Abdul Kafi.

Hingga jelang isya’ arus jama’ah masih padat merayap, memadati tiga lantai gedung utara dan dua lantai gedung selatan. Sebenarnya gedung selatan terdiri dari empat lantai, hanya saja yang dibuka cuma dua mengingat keterbatasan tim keamananan. Namun setelah tarawih yang diimamai oleh KH. Wahdi Alawy, gerbang lantai tiga pun di buka, melihat volume jama’ah yang tak bisa ditampung dan beberapa satgas yang bertugas di luar ditarik ke dalam.

15 menit sebelum acara dimulai, H. Ainul Huri – ketua tiga jama’ah Al Khidmah Indonesia – mengingatkan para jama’ah untuk memperbaharui wudhu’ dan menyiapkan diri untuk mengikuti rangkaian acara yang akan berlangsung. Tepat pukul 10.00 WIS Habib Abdullah membuka acara dengan serangkaian tawasul yang sudah dibimbingkan oleh hadrotusy syaikh KH. Ahmad Asrori al Ishaqy ra, dilanjut dengan rangkaian yang sudah dirilis oleh oleh pengurus pusat Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah.

Setelah Qashidah melepas bulan Ramadhan yang dibawakan oleh habib Umar Assegaf, pak Inul mengingatkan lagi pada para jama’ah untuk mengambil wudhu’ dan merapikan shaf sebelum shalat malam dilaksanakan. Kurang lebih 10 menit sampai lampu kembali dipadamkan, dan shalat malam pun dilangsungkan.

Pukul 00.10 WIB majlis pitulikuran resmi selesai, dan para jama’ah melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing, ada beberapa jama’ah yang beristirahat di masjid lantaran transportasi menuju rumahnya baru tersedia keesokan harinya.

Jama’ah pulang tim kebersihan pun tandang, terlalu banyak kenangan yang ditinggalkan para jama’ah, berupa sampah makanan beserta bungkusnya serta alas duduk. Padahal, seperti haul akbar kemarin, tim kebersihan sudah menyediakan banyak tong sampah. Mungkin karena buru-buru pulang sehingga para jama’ah tidak sempat untuk meletakkan kumpulan sampah mereka ke tempat sampah terdekat. Hingga liputan ini selesai di tulis, alhamdulillah dibantu tim kebersihan dinas kota Surabaya, kondisi halaman masjid sudah kembali seperti semula.

Waba’du; semoga majlis pitulikuran ini tetap istiqomah dilaksanakan di tahun-tahun selanjutnya, dan apa yang sudah dibaca dan diamalkan semoga diridhoi oleh Allah. Bukan hanya sekedar mendapatkan malam Lailatul Qadar, tapi lebih dari itu, bersama Hadrotusy Syaikh ra., dan para guru-guru sampai kanjeng Syeikh Abdul Qodir al Jilany ra. hingga kanjeng Nabi Muhammad SAW, kita semua akan dikumpulkan untuk sowan, sebo, menghadap Dzat Allah Yang Maha Agung. Amin.

Data Hisab Awal Syawal 1437 H.

Data Hisab Awal Syawal 1437 H.

Markaz Pantai Ambet pamekasan Madura : Lintang -7o 9′, Bujur 113o 30” . Time Zone 7 GMT. Ketinggian 5 Meter Dari Permukaan Laut

pam

Berdasarkan  6  metode Ilmu Hisab diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Ramadhan 1437 H jatuh pada hari         : Senin Kliwon, 4 Juli 2016 M,  antara Jam  17 : 27 s/d  18 : 04
  • Tinggi Hilal pada Senin Sore : Di bawah ufuk

Markaz Patenteng Modung Bangkalan : Lintang -7o 3′ 0” Bujur 112o 37′ 0” . Time Zone 7 GMT. Ketinggian 5 Meter Dari Permukaan Laut

bang

Berdasarkan  6  metode Ilmu Hisab diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Ramadhan 1437 H jatuh pada hari : Senin Kliwon, 4 Juli 2016 M,  antara Jam  17 : 27 s/d  18 : 04
  • Tinggi Hilal pada Senin Sore : Di bawah ufuk

Markaz Gebang Arosbaya Bangkalan : Lintang 6o 59′, Bujur 112o 47′ . Time Zone 7 GMT. Ketinggian 10 Meter Dari Permukaan Laut

bang

Berdasarkan  6  metode Ilmu Hisab diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Ramadhan 1437 H jatuh pada hari : Senin Kliwon, 4 Juli 2016 M,  antara Jam  17 : 27 s/d  18 : 04
  • Tinggi Hilal pada Senin Sore : Di bawah ufuk

Markaz Makam Mbah Condrodipo Gresik : Lintang -7o 10′ 11,1” Bujur 112o 37′ 2,3” . Time Zone 7 GMT. Ketinggian 120 Meter Dari Permukaan Laut

gresikBerdasarkan  6  metode Ilmu Hisab diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Ramadhan 1437 H jatuh pada hari : Senin Kliwon, 4 Juli 2016 M,  antara Jam  17 : 28 s/d  18 : 05
  • Tinggi Hilal pada Senin Sore : Di bawah ufuk

 

Markaz Tanjung Kodok Lamongan : Lintang -6o 51′ 0” Bujur 112o 21′ 28” . Time Zone 7 GMT. Ketinggian 15 Meter Dari Permukaan Laut

LA

Berdasarkan  6  metode Ilmu Hisab diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Ramadhan 1437 H jatuh pada hari: Senin Kliwon, 4 Juli 2016 M,  antara Jam  17 : 28 s/d  18 : 05
  • Tinggi Hilal pada Senin Sore : Di bawah ufuk

gam

PENETAPAN AWAL BULAN SYAWAL 1437 H, MENUNGGU HASIL RUKYAT

Penyerahan SKL (Surat Keterangan Lulus)

Senin, 20 juni 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi para santri kelas XII Madrasah Aliyah Al Fithrah yang telah menjadi angan angan selama 3 tahun menjalani proses belajar di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya. Sebuah ketentuan LULUS atau TIDAK LULUS merupakan suatu takdir yang seharusnya di terima dengan hati yang sangat lapang. Terkadang apa yang telah menjadi harapan kita yang sudah kita pupuk dan rawat dengan sebaik mungkin agar terwujud menjadi sebuah kenyataan tak jarang juga tidak sesuai dengan jalan takdir yang telah Allah  SWT gariskan pada kehidupan kita.

Tepat pukul 08.00 hingga 11.00 bertempat di auditorium  Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah proses penyerahan Surat Keterangan Lulus (SKL)  bagi para santri Madrasah Aliyah Al Fitrah yang telah berada di jenjang terakhir. Kegiatan ini telah menjadi suatu rutinitas di tiap akhir tahun pelajaran. Para santri putra maupun putri Madrasah Aliyah kelas XII  hadir dengan penuh kesemangatan yang menggebu dengan didasari rasa ingin tahu yang sangat besar akan ‘hasil’ usaha yang telah mereka lakukan selama 3  tahun sudah ini. Agar tak terjadi kerusuhan yang tak diinginkan, pihak yang bersangkutan memasang penghalang atau biasa di sebut SEKAT antara santri putra dan putri yang berkumpul dalam satu ruangan pendopo tersebut. Turut hadir memenuhi acara bersejarah tersebut, para Asatid serta jajaran kepengurusan Madrasah Aliyah Al Fithrah yang sangat berperan dalam proses belajar mengajar Madrasah Aliyah Al Fithrah yakni Ust. Ahmad Yasin selaku kepala sekolah, Ust. Nanang Rusdiyanto selaku Wakasis , Ust. Jami’an selaku Wakakur, Ust. Kasroni, Ust. Khudori, serta Ust. Sholeh yang berkenan membuka dan menutup dengan do’a.

Setelah mengadakan rapat kelulusan pada hari Senin 6 Juni 2016 tepat 2 minggu pra penyerahan SKL. Para pengajar serta kepengurusan memutuskan santri yang sudah di pandang telah memenuhi persyaratan kelulusan agar di beri kewenangan untuk melanjutkatkan ke jenjang berikutnya sesuai apa yang mereka harapkan dan juga telah sepakat memberi kesempatan kepada para santri yang di pandang masih belum mampu untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya jika di beri wewenang untuk lulus.

Mengenai persyaratan kelulusan Madrasah Aliyah Al Fithrah tahun 2016 ini, ada beberapa kriteria yang harus sangat di perhatikan. Ust. Jami’an selaku Wakakur telah menyebutkan bahwasannya seluruh persyaratan tersebut harus dipenuhi tanpa ada yang tersisa sedikit pun yakni mulai dari nilai akademik yang menyangkut nilai UH, UTS, UAS serta hafalan yang telah ditentukan. Serta tak tertinggal nilai nilai yang menyangkut akhlaq, kerapian, kesopanan dalam bertutur, serta prilaku para santri setiap harinya baik dalam jam belajar berlangsung ataupun di luar itu. Semuanya telah dipertimbangkan seadil-adilnya oleh para pengajar serta kepengurusan yang bersangkutan dalam rapat kelulusan Madrasah Aliyah Al Fithrah tersebut.

Berbagai ekspresi telah mereka tampakkan ketika para ustad undangan menyampaikan beberapa sambutan yang semestinya harus diperhatikan.

“Lulus ataupun tidak itu bukan lah jaminan kesuksesan masa depan kalian, namun ini hanyalah proses dan ini bukanlah akhir dari segalanya…”. Salah satu kutipan sambutan yang di sampaikan oleh Ustadz Khudori.

Seketika itu juga keadaan mulai menegangkan seolah telah memberi sinyal atau tanda bahwasanya sebagian diantara mereka telah mendapat takdir untuk tetap tinggal di Madrasah Aliyah dan mengulang nya lagi di tahun pelajaran baru esok. Rasa khawatir, gelisah, takut, penasaran, telah mereka wakilkan dengan menampakkan ekspresi yang beraneka ragam. Keadaan menjadi sangat tegang hingga yang terdengar hanyalah bisik-bisik do’a mereka pada sang Rahim serta sholawat yang mereka haturkan pada junjungan agar mendapat syafaat Nya. Namun semua itu seakan menjadi sia sia setelah mengingat event ini yang sama sekali tak menuntut mereka untuk berdo’a karena ya memang yang dibutuhkan saat ini hanyalah kepasrahan mereka dalam menerima takdir yang telah diberikan Nya.

Prosesi penyerahan ‘surat keterangan lulus’ tersebut di perankan oleh Ustad Khudori untuk pihak putra dan Ustad Sholeh untuk pihak putri. Dengan tertib para santri putrid berjajar setelah mendengar nama mereka yang telah terpanggil untuk mengambil surat keputusan tersebut , dengan sigap satu per satu dari mereka berjalan memasuki asrama putri karena sudah di beritahukan bahwasannya pembukaan surat keputusan kelulusan tersebut di harapkan untuk berada di asrama masing masing dikarenakan untuk menghindari sorak riuh para santri setelah mengetahui hasil yang telah mereka tunggu tunggu tersebut. Begitu juga dengan pihak putra yang berjalan teratur dengan tertib tanpa ada kericuhan sedikitpun. Acara tersebut berjalan dengan lancar dan sesuai apa yang diharapkan.

Alhasil tercatat dari 144 jumlah keseluruhan santri baik putra maupun putri Madrasah Aliyah Al Fithrah telah di sepakati bahwasannya terhitung 5 santri putra dan 2 santri putri yang masih dikatakan belum mampu melanjutkan ke jenjang berikutnya dalam arti lain bahwa jumlah total keseluruhan santri yang di nyatakan TIDAK LULUS menurut hasil kesepakatan pengajar kelas XII dan pengurus madrasah ialah 7 santri di tahun 2016 ini.

“Tapi setidak nya sudah ada peningkatan jika dibandingkan dengan tahun kemarin  yang terhitung 10 santri yang tidak lulus. Namun jika di bandingkan dengan tahun tahun selama saya menjabat ya siklus naik turun masih berlaku dalam hal kelulusan MA Al Fithrah ini…’’ tutur salah satu pihak yang berperan dalam kelulusan tersebut, Ustadz Jami’an.

Teringat oleh sambutan salah satu pengajar yang hadir dalam acara ini tadi yang hampir sedikit terlupa, dalam firman Allah telah beliau sebutkan yang kesimpulannya,

“Apa yang baik menurut kita belum tentu baik di hadapan Nya, begitu juga dengan sebaliknya…”.

Setidaknya pokok dari sambutan tersebut, mampu dijadikan sebagai pegangan serta sandaran oleh mereka yang belum bisa mewujudkan harapannya untuk lulus di tahun 2016 ini. Berbagai petuah petuah mengenai usaha, do’a serta tawakal telah beliau paparkan semua dalam sambutan di awal acara tadi guna membesarkan serta melapangkan hati mereka.

Selamat untuk para teman teman yang berhasil meraih kemenangan setelah lelah berjuang selama 3 tahun di aliyah ini. Namun ingat ini bukanlah akhir dari perjuangan kalian menatap terus masa depan cerah dan berjalan lalu berlari hingga meraihnya sesuai dengan apa yang kalian ingin, serta sesuai dengan apa yang Tuhan takdirkan untuk jalan kalian karena memang hanya Dia-lah Sang Penentu takdir.

Selamat juga, tak terlupa untuk teman teman pemilik hati lapang yang telah menerima apa yang telah tuhan rencanakan sekalipun tak sesuai angan kalian.

Terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Tetap optimis dan yakin bahwa Allah  telah merencanakan rahasia indah bagi kita semua. Karena hanya Allah  lah yang berhak mengatur skenario kehidupan kita. Tak usah ber kecil hati. Menyesal, bukan waktunya untuk menyesal. Manangis pun, bukan waktunya untuk menangis. Bangkit dan tetap menjalani koridor yang telah ditentukan sang penguasa takdir adalah salah satu sikap yang seharusnya kita praktekkan saat ini.

Semoga Tuhan menganugerahkan ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak, dan Hadrotus Syaikh Romo KH. Ahmad Asrori – Allahu yarhamuhu – meridhoi apa yang telah didapat selama belajar di Madrasah Aliyah bagi seluruh santri Madrasa Aliyah Al Fithrah Khususnya, dan seluruh santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya pada uamumnya. AMIN.

 

(Aulia Evinda)*

*Penulis adalah santriwati kelas X Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al Fithrah Surabaya

SUNGKEMAN

 

Minggu, 14 Ramadhan 1437 H. bertepatan dengan 19 Juni 2016 M. santri Al Fithrah melakukan “ceremony” sungkeman, sebelum pulang pada tanggal 16 Ramadhan 1437 H./ 21 Juni 2016. Acara ini ini adalah acara rutin sebelum santri menuju kediaman masing-masing, sebagai bentuk mohon ijin dan ma’af serta do’a kepada segenap pengurus pondok semoga perjalanan mereka hingga sampai di rumah, lancar tanpa halangan yang berarti. Hadir dalam prosesi pamitan itu kedua putra KH. Ahmad Asrori al Ishaqy, Agus H. M. ‘Ain El Yaqin el Ishaqy (mas Faiq) dan Agus H. M. Nur El Yaqin el Ishaqy (Mas Nico), hadir pula dalam sungkeman malam itu Habib Abdullah bin Umar al Hadar, kepala pondok pesantren Assalafi Al Fithrah berikut wakilnya Ust. H. M. Musyafa’ dan Ust. Ilyas Rahman, dan juga asataidz perwakilan dari MI(Madrasah Ibtida’iyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), dan Ma’had Aly Al Fithrah.

Prosesi ini berlangsung dengan sangat khidmat, diringi oleh sholawat, santri bergerak pelan merayap dari sisi utara menuju beliau semua di posisi selatan mimbar masjid. Berlangsung selama kurang lebih satu jam, para santri yang wajahnya sempat kusut setelah mengikuti empat belas hari memaknai kitab ngaji Ramadanan, terlihat lebih sumringah. Di sudut-sudut masjid seba’da salaman sebagain mereka mulai merencanakan liburan kemana, ngapain, dan bersama siapa?.